Selasa, 29 November 2011

artikel akuntansi Break Event Point

2.1.1    Pengertian Break Event Point
Menurut beberapa ahli :
Break Event Point adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi. Dengan kata lain, suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan atau revenue (penghasilan) sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja. Dan analisis Break Event adalah suatu cara untuk mengetahui volume penjualan minimum agar suatu usaha tidak menderita rugi, tetapi juga belum memperoleh laba (dengan kata lain sama dengan nol). (Mulyadi,2001:230)
Break Even Point adalah kondisi perusahaan tidak laba dan tidak rugi, dengan mengetahui Break Even Point dimana perusahaan akan meningkatkan penjualan diatas break even point untuk mendapatkan laba dan menghindarkan penjualan dibawah Break Even Point karena akan menderita rugi. (Armila Krisna Warindrani,2006;7)
Break Even Point adalah Posisi dimana perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita kerugian. BEP atau titik impas sangat penting bagi manajemen untuk mengambil keputusan untuk menarik produk atau mengembangkan produk, atau untuk menutup anak perusahaan yang profit center atau mengembankannya.(Darsono Prawironegoro&Ari Purwanti,2008:121)
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ahli tersebut penulis menyimpulkan bahwa Break Even Point adalah suatu cara yang mempelajari hubungan keseimbangan antara biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan suatu tingkat penjualan sama dengan penghasilan.
2.1.2    Manfaat Break Even Point
Menurut Soehardi Sigit,(2002;2), Analisis Break even point dapat digunakan untuk membantu menetapkan sasaran dan tujuan perusahaan.
Manfaat lainnya antara lain :
  1. Sebagai dasar atau landasan merrencanakan kegiatan operasional dalam usaha mencapai tujuan tertentu. Jadi sebagai alat perencanaan laba.
  2. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan harga jual yaitu setelah diketahui hasil perhitungannya menurut analisis Break Even dan laba yang ditargetkan.
  3. Sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan yang harus dilakukan oleh seorang manager.
2.1.3    Tujuan Titik Impas ( BEP )
Tujuan titik impas adalah :
  1. Mencari tingkat aktivvitas dimana pendapatan sama dengan biaya.
  2. Menunjukan suatu sasaran volume penjualan minimal yang harus diraih.
  3. Memungkinkan perusahaan mengetahui apakah mereka beroperasi dekat atau jauh dari titik impas
2.1.4   Asumsi-asumsi Dalam Analisa Break even point
Menurut Soehardi Sigit,(2002;2) di dalam menganalisa Break Even termasuk menghitung dan mengumpulkan angka-angka yang dihitung itu, analisa Break Even menetapkan syarat-syarat tertentu. Jika syarat-syarat itu tidak ada dalam kenyataan, maka harus diadakan atau dianggap ada seperti dipersyaratkan. Jadi jika syaratnya tidak ada, dapat dianggap ada. Inilah yang disebut asumsi, dan asumsi-asumsi yang diperlukan agar dapat menganalisa Break Even ialah :
  1. Bahwa biaya-biaya yang terjadi didalam  perusahaan yang bersangkutan (yang dihitung Break Even-nya) dapat di-identifikasikan sebagai biaya variable, atau sebagai biaya tetap. Biaya-biaya yang meragukan apakah sebagai biaya variable ataukah sebagai biaya tetap harus tegas tegas dimasukan kedalam variable atau tetap.Biaya semi variable dimasukan ke dalam biaya variable,biaya semi tetap dimasukan ke dalam biaya tetap.
  2. Bahwa yang ditetapkan sebagai biaya tetap itu akan tetap konstan, tidak mengalami perubahan meskipun volume produksi atau volume kegiatan berubah.
  3. Bahwa yang ditetapkan sebagai biaya variabel itu akan tetap sama jika dihitungbiaya per unit produknya, berapapun kuantitas unit yang diproduksikan. Jika kegiatan produksi berubah, biaya variabel itu berubah proposional dalam jumlah seliruhnya, sehingga biaya per unitnya akan sama.
  4. Bahwa harga jual per unit akan tetap saja, berapapun banyak unit produk yang dijual. Harga jual per unit tidak akan turun meskipun pembeli membeli banyak. Juga sebaliknya harga jual per unit tidak akan naik, meskipun langganan pembeli hanya sedikit. Sedikit ataupun banyak yang dibeli, harga per unit tidak akan mengalami perubahan.
  5. Bahwa ada sinkronisasi di dalam perusahaan yang bersangkutan menjual atau memproduksi hanya satu jenis barang. Jika ternyata lebih dari satu jenis produk, maka produk tersebut harus dianggap satu jenis produk dengan kombinasi yang selalu tetap.
2.1.5    Pengertian Biaya
Pengertian biaya menurut para ahli sebagai berikut :
Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.(Mulyadi, 2009;8)
Biaya adalah kas dan setara kas yang dikorbankan  untuk memproduksi atau memperoleh barang atau jasa yang diharapkan akan memperoleh manfaat atau keuntungan dimasa mendatang. ( Darsoni Prawironegoro&Ari Purwanti, 2008;49)
Jadi biaya merupakan total pengorbanan sumber daya yang sudah terjadi untuk mencapai tujuan tertentu. Biaya sering diartikan sebagai pengurang asset yang mengakibatkan berkurangnya ekuitas pemilik, tetapi bukan karena pengurangan atau pengambilan model oleh pemilik perusahaan dan bukan pula merupakan asset yang disebabkan karena berkurangnya liability.
2.1.6    Penggolongan Biaya
Penggolongan biaya diperlukan untuk mengembangkan data biaya yang dapat membantu manajemen dalam mencapai tujuannya. Ada beberapa jenis biaya menurut buku Mulyadi (2009;13) diantaranya adalah :
  1. Jenis biaya berdasarkan objek pengeluaran
Nama objek pengeluaran digunakan sebagai dasar dalam penggolongan biaya.
  1. Biaya Menurut fungsi pokok produksi
Seperti dalam perusahaan manufaktur ada tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, dan  fungsi administrasi dan  umum. Oleh karena itu dalam perusahaan manufaktur adalah biaya produksi, biaya pemasaran, biayaadministrasi dan umum.
  1. Biaya Menurut Hubungan biaya dengan sesuatu yang di biayai
Biaya dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu :
  1. Biaya langsung
  2. Biaya tidak langsung
  1. Biaya menurut perilakunya dalam Hubungannya dengan perubahan volume aktifitas
Biaya dapat digolongkan menjadi :
1) Biaya variabel
Biaya variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Contoh biaya variabel adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan sebagainya.(Mulyadi, 2009;15)
2) Biaya semivariabel
Biaya semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan. Biaya semivariabel mengandung unsure biaya tetap dan unsure biaya variabel. Contoh biaya semi variabel adalah biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap, biaya listrik, dan sebagainya.(Mulyadi, 2009;15)
3) Biaya semifixed
Biaya semifixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu. .(Mulyadi, 2009;15)
4) Biaya tetap
Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu. Contoh biaya tetap antara lain gaji direktur produksi. .(Mulyadi, 2009;15)
  1. Biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya
Biaya dapat dibagi menjadi dua :
  1. 1. Pengeluaran Modal
Pengeluaran modal adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Pengeluaran modal ini biasanya dibebankan sebagai cost aktiva, dan dibebankan dalam tahun-tahun yang menikmati manfaatnya dengan cara didpresiasi, diamortisasi atau didplesi. Contoh pengeluaran modal adalah pengeluaran untuk pembelian aktiva tetaap, unntuk promosi besar-besaran, untuk reparasi besar terhadap active tetap, dan pengembangan suatu produk.
  1. 2. Pengeluaran pendapatan
Pengeluaran pendapatan adalah biaya yang hanya mempunya manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut. Pada saat terjadinya pengeluaran pendapata ini dibebankan sebagai biaya dan dipertemukan dengan pendapatan yang diperoleh dari pengeluaran biaya tersebut. Contohnya seperti biaya iklan, biaya telex, dan sebagainya.
2.2       Alat Analisa
2.2.1    Standard teori Break Even Point untuk produk beragam (multi produk)
Perusahaan yang memproduksi barang lebih dari satu produk cenderung mengalami kesulitan dalam menentukan berapa besar proporsi yang harus dibebankan pada tiap produk yang dihasilkan sehingga dalam suatu analisa BEP dapat memperoleh hasil yang memuaskan dan optimal. Selama ini ada beberapa dasar pendapat yang dijadikan dasar perbandingan penenteuan BEP pada perusahaan yang produksinya beragam. “Apabila perusahaan itu membuat lebih dari satu jenis produk maka harus diperlakukan seperti membuat suatu jenis barang“(Soehardi Sigit, 2002;30)
Dari teori diatas dapat dikatakan bahwa pengalokasikan setiap biaya harus seimbang dengan pengorbanan yang dikeluarkan untuk masing-masing produk sehingga tidak terjadi pembebanan yang terlalu besar terhadap salah satu jenis produk tertentu sehingga biaya harus dipisahkan sesuai dengan jenis biaya tersebut. Apabila biaya tetap dan biaya variabel untuk setiap jenis produk dapat dipisahkan maka akan dapat diketahui batas kontribusi untuk setiap produk terhadap laba perusahaan.
2.2.2    Pendekatan Matematis
Dalam penentuan impas dengan tekhnik matematis kita dapat menggunakan pendekatan Margin Contribusi. Dimana pengertian dan perhatian yang lebih besar terhadap Margin contribusi sangat diperlukan sekali, karena dengan cepat pula kita dapat membuat suatu keputusan dan sebagai titik awal dari keputusan-keputusan berikutnya atau didalam pembahasan soal-soal manajemen akuntansi.(Mulyadi, 2001;232)
Dalam analisis Break Even Point terdapat dua jenis kontribusi yaitu sebagai berikut :
a)                  Margin kontribusi dalam unit
Harga jual – Biaya variabel per unit
b)                  Margin kontribusi dalam persen
Harga jual (persen) –Biaya variabel (persen)
Dengan Contribution Margin Ratio dan Contribution Margin unit, Dengan demikian cara perhitungan Break Even Point apabila produk yang dihasilkan lebih dari satu produk dapat dihitung dengan  rumus :
Proposisi adalah proposisi penjualan yang direncanakan atas produk A, B, dan C.
2.2.3    Menghitung Penjualan Untuk Mendapatkan Laba
Tujuan perusahaan pada umumnya adalah mencapai laba optimal sesuai kemampuan perusahaan. Oleh karena itu untuk menccapai laba optimal tersebut, perlu disususn perencanaan laba agar kemampuan yang dimiliki perusahaan dapat dikerahkan secara terkoordinasi dalam mencapai tujuan tersebut. Perencanaan laba yang baik akan mempengaruhi keberhasilan perusahaan dalam mencapai laba optimal.
Jika penjualan pada Break Even Point diketahui, maka untuk mendapatkan laba yang diinginkan dapat ditentukan dengan dua cara :
  1. Apabila laba sama dengan nol
Penjualan   = Biaya Variabel + Biaya Tetap + laba
  1. Jika menginginkan laba tertentu
Rumus yang disajikan diatas khusus untuk kegiatan usaha apabila produk yang disajikan berupa produk tunggal. Namun dapat juga apabila produk yang dihasilkan lebih dari satu macam yaitu melalui sales mix dimana dianggap proporsi hasil penjualan untung masing-masing produk konstan dengan Break Even secara keseluruhan.
2.2.4    Laba Jangka Pendek
Rencana laba jangka pendek adalah program kerja manajemen untuk memperoleh laba pada setiap transaksi bisnis, bulanan, triwulanan, semesteran, dan paling lama per satu tahun.( Darsono Prawironegoro&Ari Purwanti,2008:125)
Menurut Darsono dan Ari, laba jangka pendek dapat didekatidengan berbagai cara yaitu :
  1. Titik Impas (Break Even Point)
Titik impas adalah informasi tentang penjualan yang hanya bias untuk menutup biaya variabel dan biaya tetap saja, sehingga perusahaan tidak mendapatkan laba dan tidak menderita rugi. ( Darsono Prawironegoro&Ari Purwanti,2008:125)
  1. Marjin Keamanan ( Margin of Safety )
Margin of Safety adalah suatu informasi mengenai sampai tingkat berapa perusahaan boleh mengalami penurunan penjualan namun perusahaan tidak mengalami kerugian.Dalam Hal ini semakin besar Margin of Safety makin baik untuk perusahaan karena perusahaan bias mengalami penurunan yang cukup jauh.
Margin of Safety adalah informas tentang jumlah maksimum penurunan nilai penjualan. (Darsono Prawironegoro&Ari Purwanti,2008:125)
Margin of Safety dicaru dengan mengurangi jumlah penjualan pada titik impas,
Semakin besar margin of safety semakin besar perusahaan dapat memperoleh laba dan begitu pula sebaliknya.
Ratio Margin of safety dapat dihubungkan langsung dengan tingkat keuntungan perusahaan yang menggunakan cara sebagai berikut :
Profit % = Margin income ratio x Ratio Margin of safety
  1. c. Titik Penutupan Usaha ( Shut down Point)
Titik penutupan usaha yaitu informasi yang dibutuhkan oleh manajemen tentang berapa jumlah nilai penjualan minimum sehingga perusahaan tidak layak untuk dilanjutkan(harus ditutup). (Darsono Prawironegoro&Ari Purwanti,2008:127)
Dari laporan yang diproyeksikan, manajemen tidak hanya mengingginkan informasi mengenai beberapa jumlah pendapatan penjualan minimum agar perusahaan tidak menderita kerugian dalam tahun anggaran yang akan datang. Suatu usaha tidak layak secara ekonomis untuk dilanjutkan kembali apabila pendapatan penjualan tidak menutupi biaya tunai.
Biaya tunai adalah biaya yang memerlukan pembayaran segera dengan uang kas. Seperti biaya pemeliharaan, biaya gaji pengawas pabrik dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar